Rukun-rukun Ijarah & Manfaat Ijarah

Rukun-rukun Ijarah & Manfaat Ijarah

Rukun-rukun Ijarah & Manfaat Ijarah

Rukun-rukun Ijarah & Manfaat Ijarah
Rukun-rukun Ijarah & Manfaat Ijarah

Rukun-rukun Ijarah

1. Dua Orang yang Bertransaksi

Dua orang yang bertransaksi adalah mu’jir (yang menyewakan) dan musta’jir (penyewa). Akad ijarah tidak sah dilakukan oleh orang gila atau anak kecil karena keduanya tidak memiliki kuasa atas dirinya maupun hartanya. Yang bertransaksi adalah orang yang boleh mengelola harta karena objek akadnya adalah harta.

2. Shigat Transaksi

Shigat adalah ijab dan qabul. Ijab adalah ucapan dari orang yang menyewakan (mu’jir) yang jelas menunjukkan penyerahan manfaat (suatu barang) dengan suatu imbalan tertentu, baik dalam bentuk kalimat langsung (sharih) maupun tidak langsung (kinayah). Contoh ucapan langsung ”Saya menyewakan ini kepdamu” ucapan tidak langsung “Tinggallah di rumahku selama sebulan dengan imbalan ini”.
Qabul adalah ucapan dari orang yang menyewa (musta’jir) yang secara jelas menunjukkan atas kerelaannya menerima manfaat (suatu barang). Contoh “Saya terima”. Shighat transaksi mencakup hal-hal:
a. Ijab dan qabul harus sesuai. Jika seseorang berkata, “ Saya sewakan rumah ini kepadamu seratus ribu sebulan,” kemudian dibalas “ Saya terima dengan bayaran sembilan puluh ribu” transaksi ini tidak sah karena perbedaan ijab dan qabul.
b. Antara kalimat ijab dan kalimat qabul tidak berselang waktu yang lama atau diselingi dengan ucapan lain yang tidak ada kaitannya dengan transaksi karena hal ini menunjukkan adanya penolakan terhadap akad.
c. Tidak boleh menggantungkan transaksi pada suatu syarat, misalnya “Jika zaid datang, akan aku sewakan ini kepadamu”.

Manfaat Ijarah

Manfaat ijarah mencakup:

a. Dapat ditaksir adalah manfaat (dari barang yang disewakan) dapat ditetapkan secara jelas, baik berdasarkan syariat maupun adat (‘urf) agar harta penggantinya layak diserahkan. Contohnya menyewa rumah untuk dijadikan tempat tinggal.

1) Tidak sah menyewa alat-alat kesenangan karena keharaman manfaatnya. Contohnya menyewa penyanyi yang akan bernyanyi didepan orang yang bukan muhrimnya.
2) Tidak sah menyewakan anjing untuk berburu atau anjing penjaga karena secara syariat tidak ada harganya. Oleh sebab itu nilai manfaatnya tidak ada.
3) Tidak sah juga menyewa seseorang untuk mengucapkan kata-kata yang mengesalkan walaupun diharapkan menghasilkan sesuatu atau ada manfaatnya, tidak sah juga menyewa dinar dan dirham hanya untuk hiasan.

b. Orang yang menyewakan (mu’jir) sanggup menyerahkan manfaat (benda yang disewakan). Jika orang yang menyewakan (mu’jir) tidak sanggup menyerahkan manfaat (barang yang disewakan) baik secara fisik maupun syar’i transaksi tidak sah.
1) Tidak sah menyewakan barang yang dighasab (diambil paksa) oleh orang lain dan ia tidak mampu mengambilnya kembali setelah transaksi dilakukan.
2) Tidak sah menyewakan mobil yang hilang.
3) Tidak sah menyewakan tanah untuk pertanian yang tidak memiliki saluran air tetap (irigasi) dan tidak cukup terhujani.

c. Manfaat harus dirasakan oleh penyewa (musta’jir), bukan oleh yang menyewakan (mu’jir). Oleh sebab itu tidak sah menyewa orang untuk melakukan ibadah yang membutuhkan niat yang tidak bisa digantikan, seperti shalat dan puasa, karena manfaat pekerjaan itu merupakan pahala bagi orang yang menyewakan, bukan untuk penyewa (musta’jir).

d. Tidak boleh secara sengaja mengambil bagian barang (‘ain) yang disewa. Akan tetapi diperbolehkan jika pemanfaatan mau tidak mau harus mengambil bagian dari barang yang disewa bukan sengaja (diakadkan). Misalnya menyewa wanita untuk mengasuh dan menyusui. Hal ini diperbolehkan karena kedaruratan seperti firman Allah SWT “ Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya,” (QS Ath-Thalaq:6).

e. Hendaknya kedua pihak yang melakukan transaksi mengetahui bentuk, sifat, dan ukuran yang akan disewa.

Sumber: https://www.dutadakwah.org/