PENYEBAB KHILAFIYAH

PENYEBAB KHILAFIYAH

PENYEBAB KHILAFIYAH

Perbedaan Dalam Penerimaan Hadis

Seperti dimaklumi, para sahabat yang menerima dan menyampaikan (meriwayatkan) hadis, kesempatanyya tidak sama. Ada yang banyak menghadiri majlis rasul, tentunya mereka inilah yang layak menerima hadis sekaligus meriwayatkannya. Tetapi banyak pula di antara mereka yang sibuk dengan urusan-urusan pribadinya, sehingga jarang menghadiri majlis rasul, padahal biasanya dalam majlis itulah Rasul menjelaskan masalah-masalah yang ditanyakan atau menjelaskan hukum sesuatu; memerintah atau melarang dan menganjurkan sesuatu.

Contoh mengenai ini adalah sebagai berikut:

riwayat al zuhri bahwa hindun belum mendengar (mengetahui) hukum shalat mustahadhah, sehingga ia senantiasa menangis karena tidak dapat melaksanakan shalat:

أَنَّ هِنْدًا لَمْ تَبْلُغْهَارُخْصَةُرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِىْ اْلمُسْتَحَاضَةِ وَهِيَ الَّتِيْ يَنْزِلُ عَلَيْهَاالدَّمُ بَحْدَ أَقْصَى مُدَّةِا الحَيْضِ فَكَانَتْ تَبْكِيْ لأِنَّهَالاَتُصَلِّى
“Bahwa hindun belum sampai kepadanya hukum rukhshoh shalat mustahadhah (orang yang keluar darah setelah batas maksimal haid), sehingga ia senantiasa menangis karena tidak bisa melakukan shalat.

Padahal ada hadis mengenai rukhshah shalat bagi mustahadhah sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَرَضِيَ اللهُ عَنْهَاقَالَتْ : جَائَتْ فَاطِمَةُبِنْتُ أَبِيْ حُبَيْشٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقاَلَتْ يَارَسُوْلُ اللهِ إِنِّيْ امْرَأَةٌ اِسْتَحَاضَ فَلاَ أَطْهُرُأَفَأَدَعُ الصَّلَاةَ,قَالَ: لاَإِنَّمَاذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضِ فَاِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِىْ الصَّلاَةَوَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِيْ عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّى

Dari ‘aisyah RA ia berkata, bahwa Fatimah binti Hubaisy menghadap Rasulullah Saw seraya berkata, “ya Rarulullah aku adalah seorang wanita mustahadhah, bolehkah aku meninggalkan shalat?” Rasul menjawab, “tidak, sesungguhnya darah tersebut penyakit, bukan darah haid, maka bila datang waktu haid, tinggalkan shalat, dan bila selesai waktu haid, cucilah darah itu, kemudian shalatlah. (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Hal-Hal Yang Kembali Kepada Ta’arudl

Inilah sebab yang paling menimbulkan perbedaan dalam bidang hukum. Karenanya perlulah kita mempelajari ta’arudl dan cara-cara imam melepaskan diri dari pada ta’arudl dalil-dalil hukum itu.
Ta’arudl menurut bahasa, ialah taqabul dan tamanu, pertentangan satu sama lain dan tidak dapat dipertemukan.
Ta’arudl menurut istilah, yaitu dua dalil yang masing masing menafikan apa yang ditunjuki oleh dalil yang lain.

a. Contoh ta’arudl antara dua nash Al-Qur’an
يااَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْاإِذَاكُمْتُمْ إِلَى صَلَى ةِفَاغْسِلُوْاوُجُوْهَكُمْ وَأَيُدِ يَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. (QS. Al-Maidah ayat 6)

b. Contoh ta’arudl antara dua nash hadits
اِنَّمَاهُوَبِمَنْزِلَةِالمُخَاطِ وَالْبُصَاقِ
Artinya: mani itu hukumnya sama dengan lendir hidung dan air liur
Hadis ini menerangkan bahwa mani itu suci karena nabi menyerupakannya dengan barang suci, tetapi hadits ini dilawani dengan hadits yang lain, Nabi bersabda:
إِنَّمَايُخْسَلُ الثَّوْبُ مِنْ خَمْسٍ مِنَ الْبَوْلِ وَالْغَائِطِ وَالدَمِ وَالْقَىْءِوَالْمَنِىِّ
Artinya : kain itu dibasuh dari lima hal (perkara) dari kencing, kotoran, darah, muntah, dan mani.
Menurut hadis ini mani itu najis, sebab termasuk kedalam benda-benda yang disebutkan dalam keadaan najis.

Baca Juga: