PENJELASAN ISTIHADHAH

PENJELASAN ISTIHADHAH

PENJELASAN ISTIHADHAH

Istihadah adalah darah yang keluar dari rahim perempuan tidak pada waktu haid atau nifas. Mak setip darah yang datang lebih lama dari masa haid atau nifas, atau kurang dari masanya yang paling singkat, atau darah yang mengalir sebelum usia haid (yaitu umur sembilan tahun), maka darah itu adalah darah istihadhah. Darah istihadhah ialah darah yang keluar karena penyakit, dan bukan darah haid.

Kapan dia dkatakan darah istihadhah dan kapan dikatakan darah haid (Istihadhah berkepajangan):

ABU HANIFAH : Masa haid dihitung menurut kebiasaan yang belaku bagi masing-masing perempuan. Jika perempuan itu haid untuk pertama kali, maka dihitung menurut masa haid yang terpanjang atau sepuluh hari.
SYAFI’I : Menuruntnya, boleh menentukan dengan membedakan ciri-ciri darah haid dan istihadhah jika pandai membedakannya, dan boleh pula menentukan menurut kebiasaan (adat) yang berlaku.
MALIKI : Mereka menetapkan perubahan istihadhah pada masa suci kepada masa haid dengan membedakan perubahan yang keluar kepada sifat-sifat darah haid, seperti mengenai baunya, warnanya, rasa perih dan sebagainya. Jika berubah, maka dia haid, dan kententuan harus didahului oleh sekurang-kurang masa suci yaitu 15 hari.
HANBALI : Seorang perempuan istihadhah ada yang sudah biasa dan ada pula yang baru untuk pertama kali. Maka yang sudah terbiasa hendaklah dia beramal menurut kebiasaan sekalipun dia pandai membedakan mana yang istihadhah dan mana yang haid.

CARA BERSUCI DARI ISTIHADHAH

Dalam masalah ini terdapat empat macam pendapat atau cara:
1. Perempuan istihadhah hanya wajib mandi satu kali yaitu sesudah darah haidnya berhenti.
2. Dia wajib mandi setiap hendak shalat.
3. Dia wajib mandi tiga kali sehari semalam.
4. Dia wajib mandi satu kali sehari semalam.

PENDERITA ISTIHADHAH TIDAK BERPNTANG SEPERTI ORANG HAID

Istihadhah tidak menghalangi mengerjakan amalan yang terhalang mengerjakannya selama haid dan nifas, seperti shalat, shiyam, membaca Qur’an, menyentuh mushaf, masuk masjid, i’tikaf thawaf, watha’ (jima’) dan lain-lain.
Kata Imam Malik, Ahli Fiqh dan ahli ilmu membolehkan penderita istihadhah watha’ sekalipun darahnya banyak keluar. Ucapan Imam Malik tersebut diwirayatkan oleh Ibnu Wahab dari beliau. Karena penderita istihadhah adalah orang-orang uzur, seperti halnya orang yang sakit perut, atau orang yang suka kencing terus-menerus (diabetes), atau orang yang hidungnya berdarah terus-menerus, atau seperti luka yang tak kunjung sembuh.

Baca Juga: Sholat Rawatib

BOLEHKAH PENDERITA ISTIHADHAH MELAKUKAN WATHA’ (SANGGAMA)?

Perihal membolehkan penderita istihadhah melakukan watha’ terdapat tiga pendapat yaitu:
1. Golongan yang membolehkan penderita istihadhah melakukan watha’,yaitu para Fuqha dari beberapa daerah.
2. Golongan yang tidak membolehkan penderita istihadhah melakukan watha’ (sanggama)
3. Golongan yang yang tidak membolehkan suami penderita istihadhah mendatangi untuk senggama kecuali istihadhahnya itu berkepanjangan. Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal.

SEBAB-SEBAB PERBEDAAN PENDAPAT

Sebab perbedaan pendapat para Fuqaha ialah kebolehan penderita istihadhah melakukan shalat. Apakah mereka dibolehkan shalat karena mengingat pentingnya perintah shalat ataukah karena penderita istihadhah menurut hukum dipandang perempuan suci?

Pihak yang berpendapat bahwa kebolehan itu suatu pengecualian karena pentingnya shalat, tidak membolehkan suami penderita istihadhah melakukan sanggama dengannya. Dan golongan yang mengatakan penderita istihadhah sebagai perempuan suci, membolehkan melakukan sanggama dan karen itu masalahnya didiamkan saja.