Pengertian Psikologi Pendidikan

Pengertian Psikologi Pendidikan

Kata psychology merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa Greek (Yunani), yaitu : 1.) psyche yang berarti jiwa; 2.) logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiyah psikologi memang berarti ilmu jiwa.[2] Pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu mendapat awalan me sehingga menjadi “mendidik”, artinya memelihara dan memberi latihan. Selanjutnya, pengertian “pendidikan” menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[3]

Dalam pandangan Arthur S. Reber (1988) seorang guru besar psikologi pada Brooklyn College, University of New York City, University of British Columbia Canada, dan juga pada University of Innsbruck Austria, psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut.

  1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas.
  2. Pengembangan dan pembaruan kurikulim.
  3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan.
  4. Sosialisasi dan proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitif.
  5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.[4]
  1. Sejarah Psikologi Pendidikan

Psikologi sama tuanya dengan pendidikan itu sendiri. Beberapa ahli yang memberikan andil dalam perkembangan Psikologi Pendidikan (baik dari filsafat, pendidikan, maupun psikologi) antara lain adalah :

  1. Democritus, filsuf pertama yang menekankan pentingnya pengaruh lingkungan dan suasana rumah terhadap perkembangan kepribadian seseorang sehingga lingkungan dan suasana rumah perlu dibina sebaik mungkin agar suasananya kondusif (menguntungkan) bagi perkembangan anak.
  2.  John Amos Comenicus, orang pertama yang melakukan penyelidikan ilmiah terhadap anak. Ia mengatakan bahwa anak adalah individu yang sedang berkembang, oleh karena itu dilihat dalam bentuk dan karakternya sebagai “anak” dan tidak sebagai “miniatur orang dewasa”.
  3.  Rousseau (seorang penganut Naturalis)mendasarkan ide-ide pendidikan pada prinsip-prinsip perkembangan manusia. Ia juga mengatakan bahwa pada dasarnya, anak adalah baik.
  4. John Locke (seseorang penganut Empirisme)secara kritis mengemukakan bahwa sewaktu individu lahir dalam jiwanya belum terdapat apa-apa (teoritabula rasa/kertas putih), tetapi secara potensial, jiwa individu itu sensitif intuk melakukan impresi terhadap dunia luar dengan melalui sense. Belajar melalui penalaman dan latihan merupakan sumbangan terbesar dari John Locke dan tokoh-tokoh empirisme lainnya.

 

https://ijateng.id/moto-racing-apk/