Pengertian Hipertensi, Penyebab dan Akibat

Pengertian Hipertensi, Penyebab dan Akibat

Pengertian Hipertensi, Penyebab dan Akibat

Pengertian Hipertensi, Penyebab dan Akibat
Pengertian Hipertensi, Penyebab dan Akibat

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan penyebab meningkatnya resiko penyakit stroke, jantung dan ginjal. Pada akhir abad 20, penyakit ini menjadi penyebab utama kematian dinegara maju, dan negara berkembang. Berdasarkan survey kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, kematian akibat penyakit hipertensi di Indonesia sebesar 26,3 %, prevelensi hipertensi di Indonesia pada daerah urban dan rural berkisar antara 17 – 21 %. Data secara nasional yang ada belum lengkap dan sebagian besar penderita hipertensi di Indonesia tidak terdeteksi, sementara mereka yang terdeteksi umumnya tidak menyadari kondisi penyakitnya.

Penjelasan Hipertensi

Di dunia, hampir 1 milyar orang atau 1 atau 4 orang dewasa menderita tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi merupakan penyakit kronis serius yang bisa merusak organ tubuh. Setiap tahun darah tinggi menjadi penyebab 1 dari setiap 7 kematian ( 7 juta pertahun ) disamping menyebabkan kerusakan jantung, mata, otak dan ginjal. Berdasarkan data dari WHO dari 50 % penderita hipertensi yang diketahui hanya 25 % yang mendapat pengobatan dan hanya 12,5% yang diobati dengan baik.

Hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung, otak, syaraf, kerusakan hati dan ginjal sehingga membutuhkan biaya yang sangat besar. Hal ini merupakan beban yang besar baik untuk keluarga, masyarakat maupun negara. Dinegara maju pengendalian tekanan darah hanya 8% karena menyangkut banyak faktor baik dari penderita, tenaga kesehatan, obat-obatan maupun pelayanan kesehatan, hipertensi sebenarnya merupakan penyakit yang dapat dicegah bila faktor resiko dapat dikendalikan.

Upaya tersebut meliputi monitoring tekanan darah secara teratur, program hidup sehat tanpa asap rokok, peningkatan aktivitas fisik. Hal ini merupakan kombinasi upaya mandiri oleh individu/masyarakat dan didukung oleh program pelayanan kesehatan yang ada dan harus dilakukan sedini mugkin.

Pengertian Hipertensi

Hipertensi adalah tekanan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada arteri. Sedangkan tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding-dinding arteri ketika darah tersebut dipompa dari jantug ke jaringan. (Prayogo Utomo 2005).

Kita ketahui bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang cukup penting mendapat perhatian, namun pengertian hipertensi menurut para ahli belum ada kesepakatan yang jelas. Beberapa defenisi hipertensi telah dikemukakan para ahli diantaranya :

  1. Hipertensi adalah suatu peningkatan tekanan darah didalam arteri (Faqih Rukyanuddin, 2006)
  2. Hipertensi adalah suatu tingkat tekanan darah dimana komplikasi yang mungkin timbul menjadi nyata (Ani Kurniawan 2002).
  3. Hipertensi adalah suatu keadaan tekanan darah sistolik atau dilastolik melebihi batas normal dari seseorang individu (Made Astawan 2002).

Batas Tekanan

Menurut anjuran WHO, bahwa bila seseorang dianggap menderita hipertensi apabila tekanan darah kasual kurang lebih sama dengan 160 Hg (sistolik) dan 90 mm Hg (diastolik), sedangkan tekanan darah sistolik kurang dari 140 mm Hg adalah normentasi dan disebut borderline bila terdapat diantaranya.

Adapun batasan tekanan darah yang dianjurkan adalah sebagai berikut :

Klasifikasi                                                    Tekanan (mm Hg)

                                                          Sistolik                     Diastolik

-Normal                                               < 130                       < 85 

-Normal Tinggi                                     130-139                 85-89

Hipertensi

Tingkat 1 (ringan)                                140-159                   90-99

Tingkat 2 (sedang)                              160-179                   100-109

Tingkat 3 (berat)                                 180-209                   110-119

Tingkat 2 (s. berat)                              > – 210                     > 120  

Baroline                                              140-149                   < 90 

Sumber : Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan system kardiovaskuler 2006.                

Penyebab dan Akibat yang Ditimbulkan pada Hipertensi

1. Etiologi

Penyakit hipertensi ini sering disebut the silent disease. Umumnya penderita tidak mengetahui dirinya mengidap hipertensi sebelum pemeriksaan tekanan darahnya. Hipertensi dapat dikelompokkan dalam 2 kategori besar, yaitu primer dan sekunder. Hipertensi primer artinya hipertensi yang belum diketahui penyebabnya dengan jelas. (Junaidi Purnawan 1999).

Berbagai factor diduga turut berperan sebagai penyebab hipertensi primer, seperti bertambahnya umur stress psikologi, dan gereditas (keturunan). Sekitar 90% pasien hipertensi diperkirakan termasuk dalam kategori ini. Golongan kedua adalah hipertensi sekunder yang penyebabnya bolero dikatakan telah pasti, misalnya ginjal yang tidak berfungsi dan terganggunya keseimbangan hormone yang merupakan factor pengatur tekanan darah. (Moore Courtnem 1997).

Namun daripada itu kita juga dapat mengetahui terjadi hipertensi data disebabkan oleh factor kebiasaan hidup seseorang seperti :

  • Konsumsi Garam yang Tinggi

Kita tahu bahwa ada berhubungan antara konsumsi garam dan tekanan darah tinggi. Penderita tekanan darah tinggi saling diwajibkan untuk mengurangi garam. Pada beberapa suku bangsa yang miskin akan penyakit darah tinggi dan untuk pengobatannya.

2. Akibat Hipertensi

Sebagaimana kita ketahui, tekanan darah tinggi seringkali tidak menimbulkan keluhan-keluhan langsung, tetapi lama kelamaan dapat mengakibatkan berbagai penyakit. Tidak ada tanda-tanda memperingatkan namun lambat laun urat-urat nadi baik besar maupun kecil dalam tubuh kita menjadi rusak. Karena pengaruh tekanan darah tinggi, proses penumpukan zat-zat lemak di dalam urat nadi besar semakin cepat, sehingga mengakibatkan pengapuran pembuluh darah (arteriosclerosis). (Huli, A 1999)

Jantung kita terutama, menghadapi banyak resiko karena tekanan darah tinggi. Mengapurnya rangkaian urat nadi di sekitar jantung menambah besar resiko timbulnya infark jantung. Penderita hipertensi 2 sampai 4 kali lebih besar resikonya untuk mendapat infark jantung dari pada orang lain. Begitu pula sebab lain jantung yang selalu harus bekerja terlalu keras (memompa), lebih cepat rusak dari pada jaringan pembuluh nadi yang ada pada otak sehingga mengakibatkan serangan pada otak (attack) dan mengakibatkan kelumpuhan atau gangguan-gangguan organ tubuh. Mata pun akan lebih banyak terkena resiko daya penglihatan terganggu karena kerusakan pada pembuluh selaput mata (Halim Mubin 2001).

Sumber: https://www.pendidik.co.id/