Pembahasan Tentang Istinbath

Pembahasan Tentang Istinbath

Pembahasan Tentang Istinbath

Pembahasan Tentang Istinbath
Pembahasan Tentang Istinbath

 

Kata istinbath bila dihubungkan dengan hukum, berarti upaya menarik hukum dari Al-qur’an dan sunnah dengan jalan ijtihad. Secara garis besar, metode istinbath didagi menjadi tiga bagian, yaitu, segi kebahasaan, segi maqosid syari’ah, dan segi penyelesaian beberapa dalil yang bertentangan. Objek utama yang akan dibahas dalam ushul fiqih adalah Al-qur’an dan sunnah, untuk memahami teks-teks dua sumber yang berbahasa arab tersebut, para ulama’ telah menyusun semacam semantic yang akan digunakan dalm praktik penalaran fiqih diantaranya tang sangat pentin adalah: masalah amar, nahi, dan takhyir, pembahasan lafad dari segi umum dan khusus, pembahasan lafad dari sei mutlaq dan muqoyyad,dari segi mantuq dan mafhum, dari segi jelas dan tidaknya.

1. Amar (Perintah)

Amr adalah suatu tuntutan (Perintah) untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukanya kepada pihak yang lebih rendah.

2. Nahi (Larangan)

Nahi adalah larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebihtinggi kedudukanya pada pihak yang lebih rendah dengan kalimat yang menunjukkan atas itu.

3. Takhyir (Memberi Pilihan)

Takhyir adalah Syari’(Allah dan Rasul-Nya) memberi pilihan kepada hambanya antara melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan. Hokum yangditunjukkan oleh ayat atau hadisdalam betuktakhyir itu adalam halal atau mubah.

4. Lafad umum (‘am) dan lafad khusus (khas)

Lafad umum ialah lafad yang diciptakan untuk pengertian umum sesuai dengan pengertian lafad itu sendiri tanpa dibatasidenganjumlah tertentu.seperti kata kull dan jami’. Sedangkan lafad khas adlah lafad yang mengadungsatu pengrtian secara tunggal atau beberapa pengertian yang terbatas.

5. Mutlaq dan muqoyyad

Mutlaq adalah lafad yang menunjukkan suatu satuan tanpa dibatasi secaa harfiah dengan suatu ketentuan seperti kata Missri (seorang mesir), dan Rojulun (seorang laki-laki) sedangkan lafad muqoyyad adlah lafad yang menunjukkan suatu stuan yang secara lafdiah dibatasi dengan stuan ketentuan, misalnya, misriyyun muslimun (orang mesir yang beragama islam), dan Rojulun rosyidun (seorang laki-laki yang cerdas).

6. Mantuq dan Mafhum

Mantuq menurut istilah ushuul fiqih berarti pengertian harfiyah dari sutu lafad yang diucapkan. Menurut ulama’ ushul fiqih, Mantuq dibagi kepada Mantuq soreh dan Mantuq ghoiru soreh.sedangkan mafhum adalah pengertian tersirat dari suatu lafad (Mafhum Muwafaoh ) atau pengertian kebalikan dari pengertian lafad yang diucapkan (Mafhum mukholafah)

7. Lafad dari segi jelas dan tidak jelas maknanya

Jumur ulama’ ushul fiqih membagi lafad dari segi jelas dan tidak jelasnya kepada tiga tingkatan yaitu, Nash ,dhohir,dan mujmal pengertian nash menurut imam syafi’I adalah teks Al-qur’an dan sunah rosulullah baik tegas maupn tidak tegas. Dhoir adalah lafad yang mennjukkan suatu pengertan yang hanya sampai ketingkat dzonni(Dugaan keras) artinya makna yan cepat ditangkap dari mendengarkan lafat itu, namun masih ada sedikit pengertian lai selain pengertian yang telah ditanka dan mujmal adalah lafad yang tidak jelas pengertianya sehingga untuk memahamilnya memerlukan penjelasn dari luar.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/