Mengapa Startup dan Perusahaan Lain

Mengapa Startup dan Perusahaan Lain

Mengapa Startup dan Perusahaan Lain

Mengapa Startup dan Perusahaan Lain
Mengapa Startup dan Perusahaan Lain

Sejak adanya kejadian Bukalapak melakukan PHK atas karyawannya, muncul berbagai artikel yang mengaitkan kejadian ini dengan kegagalan manajemen startup, strategi bakar duit startup, atau teori-teori skeptis lain mengenai startup. Saya sendiri ikut mengamati opini-opini tersebut, dan dikarenakan manajemen dan strategi bisnis merupakan bidang master saya, saya ingin ikut menuangkan pemikiran saya di tulisan kali ini.

Ada yang menyebutkan bahwa tingkat kegagalan startup adalah 90%. Namun, kaum milenial (pada umumnya) dan mereka-mereka yang memutuskan untuk mewujudkan gagasan untuk mengubah dunia atau sekedar ingin menjadi pendiri perusahaan besar yang dikenal dunia, percaya bahwa mereka adalah bagian dari 10%.

Banyak artikel dan buku yang mencoba menjelaskan mengenai kegagalan startup (atau perusahaan besar yang terkena dampak disrupsi), dan banyak juga yang menyatakan bahwa belajarlah dari kegagalan orang lain. Namun, yang orang sering lupakan bahwa belajar dari kegagalan tersebut tidak akan menjamin keberhasilan kita.

Jangan lupa, bahwa dunia ini merupakan sistem yang kompleks. Bisnis dan lingkungan bisnis juga merupakan sistem yang kompleks (mengenai sistem yang kompleks baca di sini). Apa yang terjadi di masa lalu belum tentu terjadi di masa mendatang, dan satu faktor yang terjadi dalam suatu cerita kegagalan belum tentu terjadi dalam konteks, situasi, dan kompleksitas yang sama.

Dalam sistem yang kompleks, tidak mudah untuk menyatakan bahwa penyebab kegagalan hanya semata-mata dari satu atau dua faktor. Ada serentetan kejadian dan konteks situasi yang menyebabkan suatu kegagalan terjadi. Begitu juga dengan keberhasilan, ada berbagai faktor yang menyebabkan suatu keberhasilan terjadi. Bahkan jika dibuat checklist, bisa terdapat jutaan penyebab kegagalan. Sayangnya, manusia sering terjebak dalam rasionalisasi dan fallacy, sehingga kompleksitas jarang sekali didalami (saya sangat menyarankan untuk membaca buku the art of thinking clearly).

Penyebab Nokia gagal bukan hanya semata-mata menilai terlalu tinggi kekuatan brand mereka atau karena mereka tidak dapat beradaptasi dengan kemunculan android dan IoS. Ada banyak faktor lain yang bisa berkontribusi pada kegagalan Nokia seperti sistem penyusunan strategi bisnis perusahaan, budaya perusahaan, apakah pengambil keputusan di Nokia seorang pengambil risiko, kondisi keuangan perusahaan, ketersediaan informasi untuk pengambilan keputusan pada waktu itu, rentetan informasi internal atau eksternal yang terjadi sebelum hingga pada saat kejadian, dan banyak lagi lainnya.

Sama seperti ketika tenggelamnya Titanic pada waktu menghantam bongkahan es. Kejadian itu bukan semata-mata kegagalan navigasi, kegagalan kapten, atau kegagalan desain dan konstruksi kapal. Banyak faktor penyebab lain seperti aliran informasi, pengambilan keputusan untuk melayarkan kapal, quality control. Memang mudah mengevaluasi kegagalan setelah terjadi, namun kita tidak pernah bisa membayangkan kompleksitas dan apa yang sebenarnya terjadi pada waktu kejadian.

Jika kompleksitas bisa terjadi pada kegagalan, secara logis hal yang sama juga terjadi pada keberhasilan.

Jika benar-benar dievaluasi, keberhasilan merupakan suatu hasil dari serangkaian kejadian dan kombinasi dari berbagai macam faktor. Tidak ada orang yang bisa mengendalikan keberhasilan.

Sebagai contoh, Einstein menemukan teori relativitas merupakan rentetan kejadian yang diawali dari dia terlahir sebagai jenius, dia secara tidak dapat dijelaskan berada di lingkungan pembelajar, bertemu para ilmuwan, mendapatkan kesehatan, mendapatkan ilham (masukan informasi dari kejadian sekitar), dan memiliki kecerdasan untuk memproses informasi tersebut.

Apa formula keberhasilan Einstein? Apakah pantang menyerah cukup? Tidak. Apakah ingin tahu cukup? Tidak. Apakah berdoa dan bersyukur? Bukan juga.

Keberhasilan atau kegagalan merupakan hasil dari suatu kompleksitas.

Jadi, formula Zuckerberg atau belajar dari Steve Jobs, tidak akan membuat kita begitu saja bisa berhasil. Belum lagi, survival of the fittest adalah hukum alam. Jutaan sel sperma hanya 1 (atau 2) yang membuahi. Semacam itulah…

Jadi, apa formula keberhasilan atau kegagalan berdasar teori kompleksitas?

Tidak ada…

Posisi kita sebagai manusia hanya bisa terus belajar, dan memandang semua proses sebagai bagian dari kompleksitas.

Jika berhasil, itu bukan karena satu atau dua faktor saja. Begitu juga jika gagal. Teruslah belajar & syukuri semuanya. Sejak awal mula, kita sebetulnya tidak mengendalikan apapun

Sumber : http://sco.lt/4y5O0e