Mahasiswa yang Tinggal di Asrama Kampus Cenderung Lebih Sukses

Mahasiswa yang Tinggal di Asrama Kampus Cenderung Lebih Sukses

Mahasiswa yang Tinggal di Asrama Kampus Cenderung Lebih Sukses

Mahasiswa yang Tinggal di Asrama Kampus Cenderung Lebih Sukses
Mahasiswa yang Tinggal di Asrama Kampus Cenderung Lebih Sukses

Sejumlah sekolah pinggiran tingkat SMP di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur

, gagal memenuhi pagu karena kurang diminati calon peserta didik yang memilih sekolah unggulan atau swasta. SMP-SMP tersebut tidak kebagian murid baru untuk tahun ajaran 2019/2020.
Pantauan di laman ppdb.tulungagung.net, Sabtu (22/6), setidaknya ada belasan SMP negeri pinggiran yang kekurangan calon peserta didik baru meski jadwal PPDB daring secara resmi telah berakhir pada Jumat (21/6). Tiga sekolah yang paling parah dalam hal penjaringan peserta didik baru terpantau di SMPN 2 Kalidawir, SMPN 2 Karangrejo dan SMPN 2 Rejotangan.

Di SMPN 2 Kalidawir sempat nihil pendaftar, tetapi kemudian mendapat limpahan belasan pendaftar dari SMPN 1

Kalidawir yang tidak lolos zonasi. Demikian juga dengan di SMPN 6 Karangrejo.
Namun, kondisi paling parah saat ini dialami SMPN 2 Rejotangan karena hingga Jumat (21/6) baru menerima lima calon peserta didik baru yang mendaftar. “Kami sudah koordinasikan dan mendapat kelonggaran dari Dinas (Pendidikan) untuk memperpanjang masa pendaftaran sampai penutupan jadwal pengisian dapodik (data pokok pendidikan), September mendatang,” kata Kepala SMPN 2 Rejotangan Sri Wahyuni.

Sri Wahyuni yang akrab dipanggil Bu Corrie ini mengaku pesimistis perpanjangan masa pendaftaran

berdampak positif terhadap penambahan calon peserta didik baru. Sebab, Corrie dan sejumlah guru sekolah setempat sebelumnya telah “gerilya” ke SD-SD dan MI demi mendapat minat calon peserta didik baru sebelum lulusan.
Namun, segala upaya itu tak banyak membuahkan hasil. Apalagi setelah sistem zonasi diberlakukan.
Buktinya, tutur Corrie, selama dua tahun terakhir jumlah peserta didik di sekolahnya terus menurun. Tahun lalu, jumlah peserta didik di SMPN 2 Rejotangan ada 39 siswa yang digabung dalam satu rombongan belajar (rombel).
Tahun ini, kondisinya lebih parah karena hanya lima calon siswa yang mendaftar. “Mau bagaimana lagi, berapapun jumlah siswa yang kami terima tetap akan kami ajar. Sudah menjadi komitmen seluruh guru di sini, bahkan jika nanti murid yang mendaftar atau tersisa hanya satu anak,” ujarnya.