Kenapa Bapak Bukan Bos

Kenapa Bapak Bukan Bos

Kenapa Bapak Bukan Bos

Kenapa Bapak Bukan Bos
Kenapa Bapak Bukan Bos

Minggu malam, saya bermain Lego dengan anak saya Niel yang masih berumur 5.5 tahun. Saat itu dia sangat asyik membuat drone termasuk kontrollernya (mungkin terinspirasi dari Pamannya yang sering menggunakan drone). Saat bermain-main, tiba-tiba Niel menyeletuk dengan bahasa campuran Inggris-Indonesia. Berikut percakapan kami:

  • Niel: “Bap (panggilan Niel ke saya, dia menyingkat kata Bapak), are you a boss or leader di kantormu?”
  • Saya: Terdiam sejenak…. “No, I am not a leader or boss, Bud (panggilan saya ke Niel, dari kata Buddy), I am just a normal people
  • Niel: “Kenapa Bapak bukan leader atau boss?”
  • Saya: “Ya… belum kali…?”
  • Niel: “I think you have to work hard, hard, hard, and harder, so that you will become a boss
  • Niel: Berpikir sejenak, “Bap, nanti kalau aku sudah umur….. 7 ….. Umur 7 sudah boleh main listrik belum?”
  • Saya: “Sudah….”
  • Niel:” Nah, nanti kalau aku sudah umur 7, Bapak kubikinin alat buat dipasang di tangan, jadi nanti Bapak bisa kerja cepat sekali (Niel menunjukkan tangan yang mengetik cepat)… Nanti juga kubuatin alat buat dipasang di kepala, jadi nanti Bapak bisa berpikir cepat sekali… Jadi, nanti Bapak bisa work harder and faster, daaaan bisa jadi Bos…”
  • Saya: “Woooow, that is a great idea Bud!

Yah, kadang anak saya menyeletuk pertanyaan-pertanyaan dan ide-ide yang mengejutkan. Namun yang dia lakukan kali ini mirip seperti Challenger Sales yang pernah saya pelajari waktu kuliah. Niel menchallenge posisi saya dengan memahami posisi saya yang berada di lingkungan kantor. Kemudian, dia mulai mengarahkan pertanyaan kenapa saya bukan bos di kantor saya, dan dia mulai mengarahkan bahwa jika saya mau jadi bos, saya harus bekerja lebih keras lagi. Namun, dari situ Niel entah bagaimana memahami pain atau suatu hal yang merepotkan namun harus saya lakukan untuk menjadi bos, yaitu bekerja keras, dan Niel, dengan imajinasi anak-anaknya, menawarkan solusi atas pain tersebut dengan alat berdasar listrik yang bisa dipasang di tangan dan kepala, untuk bekerja dan berpikir cepat.

Demikian sekilas mengenai kisah celetukan Niel kali ini.

Salam,

Handoko

Catatan: akhir-akhir ini Niel menambahkan informasi bahwa alat idenya tersebut memiliki warna yang sama dengan warna kulit, jadi tidak terlihat jika saya bekerja cepat dengan menggunakan alat khusus.

Baca Juga ;