Kayu Gubal

Kayu Gubal

Table of Contents

Kayu GubalKayu Gubal

Kayu gubal merupakan bagian kayu yang paling muda dan terdiri dari sel-sel yang masih hidup di sebelah dalam kambium (Dumanauw, 1990). Sunardi (1997) mendefinisikan kayu gubal sebagai bagian dari kayu yang masih hidup selama pohon melakukan kegiatan kehidupannya. Sunardi (1997) mengatakan bahwa bagian kayu gubal bertugas untuk mengalirkan air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya dari tanah ke tajuk pohon. Searah dengan Dumanauw (1990) yang menjelaskan bahwa fungsi dari kayu gubal tersebut adalah tempat penimbun zat makanan serta penyalur cairan.
Tebal lapisan kayu gubal bervariasi, menurut jenis pohonnya. Secara umum jenis pohon yang mengalami pertumbuhan cepat memiliki lapisan kayu gubal yang lebih tebal dan warna terang daripada kayu terasnya. Selain itu, kayu gubal juga lebih tenah terhadap serangan hama apabila pohonnya masih hidup. Hal tersebut dikarenakan pada bagian kayu gubal memiliki sel-sel yang masih hidup (Sunardi, 1977).

4. Kayu Teras

Kayu teras adalah bagian sel-sel kayu yang terbentuk akibat adanya perubahan-perubahan sel hidup pada lingkaran bagian dalam kayu gubal (Dumanauw, 1990). Sedangkan Sunardi (1977) mengatakan bahwa kayu teras merupakan bagian kayu yang telah mati yang terletak di tengan batang kayu. Kayu teras juga dapat disebut sebagai duramen, heartwood, dan truewood.

Pembentukan kayu teras pada bagian kayu diakibatkan oleh berhentinya fungsi penyalur cairan serta proses lainnya di dalam kehidupan kayu. Ruang dalam bagian kayu teras mengandung berbagai macam zat sehingga dapat memberi warna lebih gelap pada kayu teras (tidak semua kayu teras memiliki sifat yang sama). Hanya pada jeni-jenis kayu tertentu, terasnya berbentuk tilosess. Pada beberapa jenis kayu yang lain, kayu teras mengandung bahan-bahan ekstaktif yang membuat kayu tersebut lebih berat dan awet. Tetapi tidak semua jenis kayu yang memiliki zat ekstraktf dapat di pastikan keawetannya (Dumanauw, 1990).

Pembentukan kayu teras disebabkan oleh aktivitas tylosis (thyllen, fullzellen, dan tyloses). Tylosis berbentuk gelembung mengkilat dengan warna gelap. Terbentukanya warna gelap ini dipengaruhi oleh zat-zat organik yang teresap di dalam dinding sel membentuk endapan amorf yang berasal dari proses kematian sel-sel kayu. Zat-zat organik tersebut adalah bagan-bahan phenolat, garam, getah, tanin, dan zat warna. Zat-zat pada bagian kayu ini dapat dikeluarkan melalui ekstraksi menggunakan peralut netral sehingga dikatakan sebagai extractives (Sunardi, 1977).
Extractives di dalam bagian kayu teras bersifat racun dan membuat kayu teras lebih berat serta memiliki ketahanan terhadap serangan jamur dan serangga. Namun pada kasus tertentu, yakni pohon yang masih hidup lebih rentan terhadap serangan jamur karena adanya oksigen yang masih terdapat di dalam bagian kayu. Keberadaan tylosis dan extractives pada kayu teras sangat berpengaruh pada pengawetan kayu dimana pengawetan tidak mudah dilakukan. Hal ini terjadi karena kayu teras memiliki kesukaran untuk meresap pengawet karena kedua hal tersebut (Sunardi, 1977).