Hubungan Diet dengan Hipertensi

Hubungan Diet dengan Hipertensi

Hubungan Diet dengan Hipertensi

Hubungan Diet dengan Hipertensi
Hubungan Diet dengan Hipertensi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui penyebab tekanan darah meningkat adalah peningkatan kecepatan denyut, peningkatan resistensi (tahanan) dari pembuluh darah tepi dan peningkatan volume aliran darah. (Gunawan Lany 2001).
Dalam hal ini faktor gizi juga sangat berhubungan dengan adanya hipertensi yang melalui beberapa mekanisme. Aterosklerosis merupakan penyebab utama terjadinya hipertensi yang berhubungan dengan diet seseorang, walaupun faktor usia juga  berperan, karena pada usia lanjut pembuluh darah cenderung menjadi kaku dan elastisitasnya kurang. (Ani Kurniawan, 2003).
Untuk mengendalikan hipertensi yang sudah ada faktor diet dan kebiasaan maka sangat berpengaruh dan berhubungan erat dengan meningkatnya tekanan darah. Faktor-faktor ini meliputi meningkatnya konsumsi : natrium, kalium, lemak dalam makanan serta meningkatkan badan dari berat badan ideal.

1. Natrium

Penelitian menunjukkan adanya kaitan antara asupan natrium yang berlebihan dengan meningkatnya tekanan darah tinggi pada beberapa oedema individu. Konsumsi natrium yang berlebihan menyebabkan kosentrasi natrium didalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya, cairan intraseluler ditarik keluar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi. Karena itu disarankan untuk mengurangi konsumsi natrium/sodium. Sumber natrim/sodium yang utama adalah natrium klorida (garam dapur), penyedap masakan (monosodium glutamat = MSG), dan sodium karbonat.

2. Kalium

Berbeda halnya dengan natrium, kalium (potassium) merupakan ion utama didalam cairan intraseluler. Cara kerja kalium adalah kebalikan dari natrium. Konsumsi kalium yang banyak akan meningkatkan kosentrasinya didalam cairan intraseluler, sehingga cenderung menarik cairan dari bagian ekstraseluler dan menurunkan tekanan darah.

Dengan demikian, konsumsi natrum perlu diimbangi dengan kalium. Rasio konsumsi natrium dan kalium yang dianjurkan 1:1 sumber kalium yang baik adalah buah-buahan seperti : pisang, jeruk, dan lain-lain. Secara alami, banyak bahan pangan yang memiliki kalium dengan rasio yang lebih tinggi dibandingkan dengan natrium. Rasio tersebut kemudian menjadi terbalik akibat proses pengolahan yang banyak menambahkan garam kedalamnya. Sebagai contoh, rasio kalium terhadap natrium pada tomat 100 : 1 menjadi 10 : 6 pada tomat kaleng dan 1 : 28 pada saus. Contoh lain adalah rasio kalium terhadap natrium pada kentang bakar 100 : 1 menjadi 10 : 9 pada kripik dan 1 : 1,7 pada salad kentang. (Made Astawan, 2002).

3. Lemak Dalam Diet

Lemak dalam diet meningkatkan resiko untuk mendapatkan hipertensi. Diet tinggi lemak berkaitan dengan kenaikan tekanan darah. Penurunan konsumsi lemak jenuh terutama lemak dalam makanan yang bersumber dari hewan dan peningkatan konsumsi lemak tidak jenuh secukupnya yang berasal dari minyak sayuran, biji dan makanan lain yang bersumber dari tanaman dapat menurunkan tekanan darah. (Elly Nurachman, 2001).

Komponen lain lemak polivalen tidak jenuh, yang disebut asam lemak esensial, merupakan rintangan untuk zat-zat yang mirip hormon dalam darah yang disebut prostagladin. Beberapa jenis prostagladin membantu mengatur tekanan darah dengan melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan eksresi natrium dan air. Ini meningkatkan diameter dari arteri dan mengurangi jumlah darah yang harus dipompa oleh jantung. Dalam hal ini tekanan darah akan berkurang bila asupan asam lemak esensial dalam diet ditingkatkan. (Hariwijaya, 2006).

4. Pengaturan Berat Badan Ideal

Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara berat badan dan hipertensi. Bila berat badan meningkat diatas berat badan ideal maka resiko hipertensi juga meningkat. Penurunan berat badan, diharapkan mencapai berat badan ideal. Berat badan ideal adalah :

TB – 100 – 10%

Contohnya :

TB = 160 cm, berat badan ideal adalah :

160 – 100 – 10% ( 160 – 100)

60 – 6 = 54

Penurunan berat badan dan pengaturan berat badan merupakan pengobatan yang efektif untuk hipertensi. Bila berat badan menurun, volume darah total juga berkurang. Laporan dari beberapa klinik melaporkan bahwa penurunan berat badan dalam mengontrol tekanan darah tinggi lebih berhasil dari diit rendah garam. Tentu saja hal ini tidak berlaku bagi penderita darah tinggi yang kurus.

Baca juga: