Hubungan Agama dan Sains

Hubungan Agama dan Sains

Manusia tidak lepas dari para pencari Tuhan. Maka dari itu banyak filsuf yang muncul dan terlibat dalam diskursus Ketuhanan (Teologi), wacana tentang asal- usul alam semesta (Ontologi), dan ilmu pengetahuan (Epistimologi). Dalam proses pencarian Tuhan, manusia merasakan lika-liku. Ada banyak manusia yang sudah merasakan adanya Tuhan, dan sebagian lagi ada yang terlena dalam igauan yang tidak jelas, dan memaksakan diri menjangkau esensi Tuhan yang sesungguhnya.Mereka terlalu jauh mengembara di belantara metafisisme sehingga mereka terjebak dalam perangkap skeptisisme, bahkan ateisme.

Menurut Aljisr (2001: 470) dalam konteks agama, sikap itu tentu saja kontra produktif, sekaligus kontra produktif dengan semangat keagamaan yang selalu memerintahkan manusia untuk memikirkan hal-hal inderawi dan rasional ketika berbicara tentang eksistensi bukan esensi Tuhan sebagai pencipta(al-khalik). Namun demikian konstribusi Filsafat dan Ilmu dalam mengantarkan keimanan kepada Tuhan. Bukannya tidak ada, dalam batas-batas tertentu, Filsafat dan ilmu bisa, mendukung berbagai bukti kebenaran eksistensi dan kekuasaan Tuhan yang telah banyak diungkapkan oleh agama.[7]


  1. Hubungan Agama dan Sains menurut analisa Filosofis

Agama dan sains kali ini akan dibahasan dengan pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

1.)    Pendekatan ontologism

Pendekatan ini adalah pendekatan yang membahas tentang yang ada atau disebut juga hakikat sesuatu. Ontology sendiri diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang yang ada dan tidak terikat pada perwujudan tertentu, yang bersifat universal dan menampilkan pemikiran semesta. Ontology perupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Berdasarkan pendekatan ini, maka agama dan sains dilihat dari sisi hakekat terdalam yang ada di dalamnya.

Secara ontologism, hakikat agama adalah sesuatu yang tidak Nampak atau abstrak. Bila agama dilihat dari aspek yang Nampak, ia akan berwujud sebagai symbol ritual yang dilakukan oleh umat beragama. Sementara itu, makna abstrak dari agama yaitu dapat dipahami dari sisi konseptual, seperti dalam perspektif teologis. Agama dapat diartikan sebagai kepercayaan terhadap tuhan yang selalu hidup, yaitu kepada Jiwa dan Kehendak Ilahi, yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan umat manusia.[8]

Disisi lain, sains yang secara etimologis berasal dari scire (Latin), berarti mengetahui, keadaan atau fakta mengetahui atau pengetahuan (knowledge) yang dikontraskan dengan intuisi atau kepercayaan. Secara ontologis, sains seperti ditulis Kertanegara merupakan pengetahuan sistematis yang berasal dari observasi, kajian dan percobaan yang dilakukan untuk menentukan sifat dasar atau prinsip apa yang dikaji.

sumber :
https://erdf-masters-kart.com/truck-simulator-usa-apk/