Faktor-Faktor Penyebab Khilafiyah (Perbedaan Penafsiran Lafadz di Dalam Al-Qur’an)

Faktor-Faktor Penyebab Khilafiyah (Perbedaan Penafsiran Lafadz di Dalam Al-Qur’an)

Faktor-Faktor Penyebab Khilafiyah (Perbedaan Penafsiran Lafadz di Dalam Al-Qur’an)

Dalam sejarah perkembangan hukum islam, perbedaan pendapat mengenai penetapan hukum beberapa masalah hukum, telah terjadi di kalangan para sahabat Nabi SAW ketika beliau masih hidup. Tetapi perbedaan pendapat itu segera dapat dipertemukan dengan mengembalikannya kepada Rasulullah SAW. Setelah beliau wafat, maka timbul di kalangan sahabat perbedaan pendapat dalam menetapkan hukum. Perbedaan pendapat di kalangan sahabat nabi itu tidak banyak jumlahnya karena masalah yang terjadi pada masa itu tidak sebanyak pada masa berikutnya yaitu masa Tabi’in.

Terjadinya perbedaan pendapat dalam menetapkan hukum islam, di samping disebabkan oleh faktor yang bersifat manusiawi, juga oleh faktor lain karena adanya segi-segi khusus yang bertalian dengan agama. Faktor penyebab itu mengalami perkembangan sepanjang pertumbuhan hukum pada generasi berikutnya. Makin lama makin berkembang sepanjang sejarah hukum islam, sehingga kadang – kadang menimbulkan pertentangan keras, utamanya di kalangan orang-orang awam. Setiap muj’tahid berusaha keras mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk menemukan hukum Allah dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah yang memerlukan penyelesaian dan penegasan hukumnya. Dasar dan sumber pengambilan mereka yang pokok adalan sama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Tetapi terkadang hasil temuan mereka berbeda satu sama lain dan masing-masing beramal sesuai dengan hasil ij’tihadnya, yang menurut dugaan kuatnya adalah benar dan tepat.

Perbedaan Penafsiran Lafadz di Dalam Al-Qur’an

Firman Allah اَوْلَمَسْتُ النِّسَاءَ
( atau kamu menyentuh atau bersetubuh dengan perempuan ).
Menurut imam Hanafi, laamastum berarti bersetubuh, sebab ini tidak batal, meskipun ajnabiyah.

Menurut imam Syafi’i, Maliki dan Hambali, laamastum artinya menyentuh, sebab itu batal wudlu dengan menyentuh perempuan. Tetapi Imam Syafi’i berpendapat, bahwa yang membatalkan wudlu adalah perempuan ajnabiyah ( bukan muhrim ). Menyentuh ibu atau anak sendiri tidak membatalkan wudlu.

Menurut Imam Maliki dan Hambali, menyentuh perempuan membatalkan wudlu kalau disentuh dengan syahwat. Tetapi kalau tidak dengan syahwat maka tidak batal wudlu itu.

Menurut Adh-Dhohiri menyentuh perempuan membatalkan wudlu, meskipun ibu sendiri karena mereka termasuk perempuan juga menurut lahirnya lafadz An-Nisa’.

Dengan contoh itu dapatlah kita ketahui bahwa meskipun kelima madzhab itu sepakat tentang dalil firman Allah: au laamastumun nisaa’ tetapi mereka itu berlainan pendapat tentang tafsirannya dan mengistinbathkan hukum dari padanya, sehingga terjadi tiga pendapat:

· Kata Imam Syafi’i menyentuh perempuan ajnabiyah membatalkan wudlu, dan menyetuh wanita muhrim tidak membatalkan wudlu.

· Kata Imam Maliki dan Hambali, menyentuh perempuan membatalkan wudlu, kalau disentuh dengan syahwat baik muhrim atau ajnabiyah. Menyentuh perempuan dengan tidak ada syahwat maka tidak membatalkan wudlu.

· Menurut Madzhab Dzahiri, menyentuh perempuan membatalkan wudlu, baik muhrim atau ajnabiyah.

Sebab Perbedaan Penafsiran Lafadz di Dalam Al-Qur’an

Baca Juga: Nama Bayi Perempuan Islami

a. Adanya Kata-Kata Musytarak

Kata-kata didalam bahasa arab ada dua macam, ada yang dinamakan mutaradif terdiri dari beberapa kata namun artinya satu, seperti kata ‘lais’ dan ‘asad’ yang keduanya berarti singa.
Dan disamping itu ada kata-kata musytarak yaitu katanya satu tetapi mempunyai arti yang banyak, sebagaimana firman Allah
وَالمُطَلَّقَأتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَتَ قُرُوْءٍ
Artinya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri ( menunggu tiga kali quru ) Al-Baqoroh 228.
Kata quru dapat diartikan suci dan haid. Imam syafi’i mengambil arti pertama dan imam hanafi mengambil arti yang kedua.

b. Amar dan Nahi

Perbedaan mereka di dalam memahami arti amar ( perintah ) dan nahi (larangan) baik dari Al-Qur’an maupun Sunnah selalu berbeda.
Contoh:
يَامَعْشَرَالشَبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِشنْكُمْ اْلبَئَة فَلْيَتَزَوَّجْ
Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi
Sebagian ulama seperti golongan hanafiah mengatakan bahwa khinzir yang dimaksud disini umum, mereka berpegang kepada dhohir lafadz. Karenanya haramlah babi darat dan laut. Dan sebagian ulama mema’nakannya dengan babi darat saja dan menghalalkan babi laut, karena mengingat firman Allah:
اُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُاْلبَحْرِوَطَعَامُهُ
Artinya: Dihalalkan bagimu binatang buruan laut