Definisi ‘Urf dan Istishab

Definisi 'Urf dan Istishab

Definisi ‘Urf dan Istishab

Definisi 'Urf dan Istishab
Definisi ‘Urf dan Istishab

Definisi ‘Urf

‘Urf adalah sesuatu yang telah dikenal oleh banyak orang dan telah menjadi tradisi mereka, baik berupa perkataan, atau prbuatan, atau keadaan meninggalkan. Ia juga diisebut adat. Sedangkan menurut istilah para ahli syara’ tidak ada perbedaan antara ‘Urf dan adat kebiasaan, maka ‘Urf yang bersifat perbuatan seperti saling pengertian manusia terhadap jual beli, dengan cara memberikan tanpa ada shighot lafdziyyah (ungkapan melalui perkataan)

Macam-macam ‘Urf

1) ‘Urf shohih
‘Urf shohih ialah : sesuatu yang saling dikenal manusia dan tidak bertentangan dengan dallil syara’, tidak menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan tidak pula membatalkan sesuatu yang wajib.

2) ‘Urf fasid
‘Urf fasid ialah : sesuatu yang sudah menjadi tradisi manusia, akan tetapi tradiisi itu bertentangan dengan syara’ atau menghalalkan sesuatu yang diharamkan, atau menbatalkan sesuatu yang wajib[5].

Hukum ‘Urf

‘Urf shohih wajib dipelihara dan pembentukan hokum dan dalam peradilan sesuatu yang telah menjadi adat manusia dan sesuatu yang telah terbiasa dijalani. Maka hal itu telah menjadi kebutuhan dari manusia dan sesuai pula dengan kemaslahatan mereka. Sepanjang tidak keluar dengan syara’ maka wajib diperhatikan.

Artinya :
Adat merupakan syari’at yang dikukuhkan sebagai hukum.

‘Urf yang fasid ( adat kebiasaan yang rusak) maka ia tidak wajib diperhatikan karena bertentangan dengan dalil syar’I atau membatalkan hokum syar’i. apabila manusia telah terbiasa mengadakan suatu perjanjian yang termasuk fasid, seperti riba atau perjanjian yang bersifat penipuan atau bahaya maka ‘Urf tidak memperbolehkan perjanjian tersebut[6].

Definisi istishab

Istishab menurut bahasa arab ialah ; pengakuan adanya perhubungan. Sedang menurut para ahli ilmu usul fiqih istishab adalah; menetapkan hukum atas sesuatu, berdasarkan keadaan sebelumnya, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahan keadaan tersebut, atau ia adalah menetapkan hukum yang telah tetap pada masa yang lalu dan masih tetap pada keadaannya itu, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahannya.
Apabila seorang mujtahid ditanyai tentang hukum sebuah perjanjian atau suatu pengelolaan, dan ia tidak menemukan nash didalam Al-qur an atau sunnah dan tidak pula menemukan dalil syar’i yang membicarakan hukumnya, maka ia memutuskan dengan kebolehan perjanjian atau pengelolaan tersebut berdasarkan atas kaidah;

ان الاصل في الاشياء الاباحة
Artinya:
“Sesungguhnya asal mula dalam segala sesuatu adalah dibolehkan “

Apabila seorang mujtahid ditanyai mengenai hukum suatu binatang, benda padat, tumbuh-tumbuhan, atau makanan apapun, atau minuman apa saja, atau suatu amal perbuatan dan ia tidak menemukan dalail syar’i atas hukumnya, maka ia menetapkan hokum dengan kebolehannya, karena sesungguhnya kebolehan (ibahah) adalah asalnya, padahal tidak ada dalil yang menunjukkan terhadap perubahannya.
Sesungguhnya asal sesuatu itu boleh, karena Allah SWT telah berfirman:

هو الذي خلق لكم ما في الارض جميعا
Artinya:
“Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu” (Q.S. Al-baqarah : 29)

Kehujjahan istishab

Istishab merupakan akhir dalil syar’i yang menjadi tempat kembali seorang mujtahid untuk mengetahui hukum sesuatu yang dihadapkan kepadanya. Maka para ahli ilmu usul fiqih berkata: Sesungguhnya istishab merupakan akhir tempat beredarnya fatwa, dengan kata lain ia adalah penetapan hukum terhadap sesuatu dengan dengan hukum yang telah tetap baginya, sepanjang tidak ada dalil yang merubahnya , ini adalah metode untuk beristidlal yang menjadi fitrah manusia dan mereka jalani dalam berbagai tindakan dan hukum mereka.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/