Definisi Ilmu Kalam

Definisi Ilmu Kalam

Ilmu kalam ialah ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan (Allah, sifat-sifat Tuhan yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang tidak ada pada-Nya dan sifat yang mungkin ada pada-Nya dan membicarakan tentang rasul-rasul Tuhan, untuk menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya dan sifat-sifat yang mungkin terdapat padanya).Ahmad Hanafi berpendapat bahwa ilmu kalam juga dinamakan ilmu aqaid atau ilmu Ushulludin. Hal ini dapat dimengerti, karena persoalan kepercayaan yang menjadi pokok ajaran agama itulah yang menjadi pokok pembicaraannya.

Ilmu kalam berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil fikiran dari kepercayaan-kepercayaan yang diyakininya. Ilmu ini dinamakan ilmu kalam, karena :

  1. Persoalan yang menjadi pembicaraan abad-abad permulaan hijrah ialah “firman Tuhan” (kalam Allah) dan non azalinya Qur’an. Karena itu keseluruhan isi ilmu kalam dinamai dengan salah sau bagiannya yang terpenting.
  2. Dasar-dasar ilmu kalam ialah dalil-dalil pikiran dan pengaruh dalil-dalil ini nampak jelas dalam pembicaraan para mutakalamin. Mereka jarang-jarang kembali kepada dalil-dalil naqli (qur’an dan hadits), keculai sesudah menetapkan benarnya pokok persoalan lebih dahulu.
  3. Karena cara pembuktian kepercayaan-kepercayaan agama menyerupai logika dalam filsafat, maka pembuktian dalam soal-soal agama ini dinamai ilmu kalam untuk membedakan dengan logika dalam filsafat.

5.2. Sejarah Timbulnya Persoalan Teologi dalam Islam

Suatu kenyataan sejarah, bahwa persoalan yang mula-mula timbul dalam Islam adalah persoalan dalam bidang politik, bukan dalam bidang aqidah atau teologi. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan teologi. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas kita perlu menengok kembali sejarah Islam pada awal perkembangannya.

Masyarakat kota Mekkah pada waktu itu adalah masyarakat pedagang. Yang berkuasa dalam masyarakat adalah bangsawan Quraisy, pedagang-pedagang kaya. Kedudukan Nabi Muhammad SAW di Mekkah hanyalah sebagai kepala Agama, bukan kepada pemerintahan.Berbeda dengan keadaan Nabi di Madinah, masyarakat Madinah adalah masyarakat petani yang terjadi dari bangsa Arab dan Yahudi, bangsa Arab terdiri dari suku Aus dan Khazraj; kedua suku tersebut tidak pernah bersatu dan selalu bermusuhan satu sama lain. Hal ini menyebabkan keadaan menjadi tidak aman. Maka mereka memerlukan seseorang pengantara yang netral tidak memihak kepada salah satu suku yang ada.

Tatkala kepala-kepala suku pergi ziarah ke Mekkah, mereka mendengar tentang pribadi Nabi yang menurut pandangan mereka, beliau sangat tepat diangkat sebagai pengantara bagi suku Aus dan Khazraj. Pada saat keadaan di Mekkah sangat gawat, dan posisi Nabi di Mekkah makin terjepit, Nabi pindah dari kota Mekkah ke kota Yatsrib yang kemudian diganti nama Madinah. Di tempat yang baru ini Nabi mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Di sana Nabi diangkat sebagai pengantara kedua suku tersebut. Setelah Nabi berhasil mendamaikan kedua suku tersebut, akhirnya diangkat menjadi kepala pemerintahan. Bertambahlah tugas Nabi, yaitu di samping beliau bertindak sebagai Kepala Agama, beliau juga menduduki jabatan Kepala Pemerintahan. Dan sejak itu kota Madinah mempunyai kekuasan politik yang sebelumnya tidak pernah ada

Pada saat Nabi wafat di tahun 632 M, daerah kekuasan Madinah telah meliputi seluruh semenanjung Arabia. Tentang keberhasilan pemerintahan Nabi ini W.M.Watt melukiskan, negeri Islam waktu itu telah merupakan kupulan suku-suku bangsa Arab yang mengikat tali persekutuan dengan Nabi Muhammad dalam berbagai bentuk, dengan masyarakat Madinah dan mungkin juga masyarakat Mekkah sebagai intinya. Memang sebagai kata R. Strothman, Islam disamping merupakan sistem Agama, juga telah merupakan sistem politik, dan Nabi Muhammad di samping menjadi Rasul, juga menjadi seorang ahli negara.

sumber :