Contoh-contoh Penyimpangan Kode Etik Jurnalistik

Contoh-contoh Penyimpangan Kode Etik Jurnalistik

Di bawah ini adalah contoh-contoh penyimpangan/penyalahgunaan kebebasan pers yang bertentangan dengan kode etik jurnalistik.

  1. Penyiaran berita yang tidak memenuhi kode etik jurnalistik.

Penylaran berita dan penyampaian informasi yang tidak mernenuhi kode etik

jurnalistik dan kewartawanan dapat terjadi. Hal ini karena ketidaksengajaan atau sebaliknya, atau kurang profesionalnya pelaku pers,

  1. Peradilan oleh pers.

Berita kurang berimbang dan tidak menggunakan pihak kedua (side both) kadang-kadang terialu jauh mengadili person tertentu, tentu saja tidak langsung melanggar asas praduga tidak bersalah (presumption of inhocence).

  1. Membentuk opini yang menyesatkan

Dalam masyarakat tidak tertutup kemungkinan terjadi suatu berita dipahami secara tidak tepat, baik karena tingkat pemahaman pembaca maupun karena isi berita dan informasi media tersebut bertendensi membentuk opini publik demi kepentingan terantu. Objektivitas berita daninformasi kurang diutamakan. Dengan demikian, masyarakat dapat terpengaruh oleh pola pikir dan pendepat yang menyesatkan. lklan yang mengguhakan bahasa secara berlebihan karena hanya mengejar keuntungan semata, jelas dapat merugikan masyarakat.

  1. Bentuk tulisan yang provokatif

Kamungkinan suatu berita dapat menimbulkan emosi masyarakat, hal ini terjadi karena kekhilafan penulis berita atau redaksi atas peliputan peristiwa tertentu atau mungkin juga disebakan oleh informasi sumber berita atau sebab-sebab yang lain

  1. Pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang hukum pidana.

Sanksi penyalahgunaan penyampaian infomasi dan komunikasi antara lain terdapat dalam KUHP, misalnya pasal 137 KUHP.

Bentuk-bentuk kode etik yang secara hukum sah dan berlaku di Indonesia antara lain:

  1. Kode Etik Wartawan Indonesia
  2. Wartawan Indonesia menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi
  3. yang benar.
  4. Wartawan Indonesia menempuh tata cara yang etis untuk memperoleh dan menyiarkan informasi, serta memberikan identitas kepada sumber informasi.
  5. Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampuradukkan fakta dengan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat. Wartawan Indonesia tidak menyiarkan informasi yang bersifat dusta, sadis dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan susila.
  6. Wartawan Indonesia tidak menerima suap dan menyalahgunakan profesi.
  7. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, serta of the record sesuai kesepakatan.
  8. Wartawan Indonesia segera mencabut dan meralat kekeliruan dalam pemberitaan serta melayani hak jawab.

Pengawasan dan penetapan sanksi atas pelanggaran kode etik ini diserahkan kepada Jajaran pers dan dilaksanakan oleh organisasi yang dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan kode etik.

sumber :

https://thesrirachacookbook.com/seva-mobil-bekas/