Ciri Makanan Berformalin dan Boraks

Ciri Makanan Berformalin dan Boraks

Ciri Makanan Berformalin dan Boraks

Ciri Makanan Berformalin dan Boraks
Ciri Makanan Berformalin dan Boraks

“PAKAI formalin nggak, Mang, tahunya?” tanya seorang ibu. “Kalau mau tahu yang bebas formalin gampang kok, Bu, pilih saja yang dilaletin,” sahut ibu yang satu lagi.
Seperti biasa, celoteh sejumlah ibu saat merubungi tukang sayur keliling selalu menghiasi suasana pagi di suatu kompleks perumahan. Namun, sejak banyak Pemberitaan memberitakan tentang pengawet mayat (formalin), boraks (antiseptik), juga pewarna tekstil (Rhodamin B) yang dipakai untuk mengawetkan makanan, dan kemudian dilanjutkan oleh berbagai media massa, banyak orang menjadi lebih berhati-hati.

Selain lebih cerewet tanya ini-itu kepada penjualnya, tiap orang juga mencari kiat mudah untuk mencirikan makanan yang aman. Seperti ibu tadi. Menurutnya, makanan berformalin akan dijauhi lalat. Lalu, makanan seperti bakso yang mengandung boraks, tak bakal disentuh kucing. “Binatang saja ndak doyan, masa iya manusia mesti memakannya,” ujarnya.
Sebetulnya penggunaan pengawet yang dapat memicu penyakit itu telah digunakan sejak belasan tahun lalu. Mungkin saja bahan makanan lain yang tidak masuk pengujian BPOM juga telah terkontaminasi zat-zat kimia itu.

Ciri makanan berformalin

Mi basah:
– Bau sedikit menyengat.
– Awet, tahan dua hari dalam suhu kamar (25º Celsius). Pada suhu 10ºC atau dalam lemari es bisa tahan lebih 15 hari.
– Mi tampak mengkilat (seperti berminyak), liat (tidak mudah putus), dan tidak lengket.
Tahu:
– Bentuknya sangat bagus.
– Kenyal.
– Tidak mudah hancur dan awet (sampai tiga hari pada suhu kamar (25ºC). Pada suhu lemari es (10ºC) tahan lebih dari 15 hari.
– Bau agak menyengat.
– Aroma kedelai sudah tak nyata lagi.
Bakso:
– Kenyal.
– Awet, setidaknya pada suhu kamar bisa tahan sampai lima hari.
Ikan:
– Warna putih bersih.
– Kenyal.
– Insangnya berwarna merah tua dan bukan merah segar.
– Awet (pada suhu kamar) sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk.
– Tidak terasa bau amis ikan, melainkan ada bau menyengat
Ikan asin:
– Ikan berwarna bersih cerah.
– Tidak berbau khas ikan.
– Awet sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar (25ºC).
– Liat (tidak mudah hancur).
Ayam potong:
– Berwarna putih bersih.
– Tidak mudah busuk atau awet dalam beberapa hari.

Boraks Bisa Mematikan

Sering mengonsumsi makanan berboraks akan menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal. Dalam jumlah banyak, boraks menyebabkan demam, anuria (tidak terbentuknya urin), koma, merangsang sistem saraf pusat, menimbulkan depresi, apatis, sianosis, tekanan darah turun, kerusakan ginjal, pingsan, bahkan kematian.

Ciri makanan berboraks

Sama seperti formalin, cukup sulit menentukan apakah suatu makanan mengandung boraks. Hanya lewat uji laboratorium, semua bisa jelas. Namun, penampakan luar tetap memang bisa dicermati karena ada perbedaan yang bisa dijadikan pegangan untuk menentukan suatu makanan aman dari boraks atau tidak.

Bakso

– Lebih kenyal dibanding bakso tanpa boraks.
– Bila digigit akan kembali ke bentuk semula.
– Tahan lama atau awet beberapa hari.
– Warnanya tampak lebih putih. Bakso yang aman berwarna abu-abu segar merata di semua bagian, baik di pinggir maupun tengah.
– Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul.
– Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola bekel.

Gula Merah

– Sangat keras dan susah dibelah.
– Terlihat butiran-butiran mengkilap di bagian dalam.

Ciri makanan yang mengandung Rhodamin B:

– Warna kelihatan cerah (berwarna-warni), sehingga tampak menarik.
– Ada sedikit rasa pahit (terutama pada sirop atau limun).
– Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya.
– Baunya tidak alami sesuai makanannya.

Jajanan (seperti lontong)
teksturnya sangat kenyal, berasa tajam, seprti sangat gurih dan membuat lidah bergetar dan meberikan rasa getir.

Ciri kerupuk

teksturnya renyah dan bisa menimbulkan rasa getir.
Bahan tambahan makanan (food additives) adalah senyawa atau campuran senyawa kimia yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan (non bahan tambahan makanan) namun oleh masyarakat dijadikan bahan tambahan makanan. Dan ini merupakan salah satu masalah mental masyarakat.

(Sumber: https://dosen.co.id/)