AKHIR PENGHABISAN MUJARA’AH ATAU MUKHABAROH DAN MUSYAQAH

AKHIR PENGHABISAN MUJARA’AH ATAU MUKHABAROH DAN MUSYAQAH

AKHIR PENGHABISAN MUJARA’AH ATAU MUKHABAROH DAN MUSYAQAH

AKHIR PENGHABISAN MUJARA’AH ATAU MUKHABAROH DAN MUSYAQAH
AKHIR PENGHABISAN MUJARA’AH ATAU MUKHABAROH DAN MUSYAQAH

 

1. Akhir penghabisan mujara’ah atau mukhobaroh

* Habis masa mujara’ah
* Salah seorang yang aqad meninggal
* Adanya uzur. Menurut ulama hanafiyah, diantara uzur yang menyebabkan batalnya mujara’ah, antara lain :
a. Tanah garapan terpaksa dijual, misalnya untuk membayar hutang
b. Penggarap tidk dapat mengelola tanah, seperti sakit, jihad dijalan ALLAH SWT, dll.
2. Akhir penghabisan musyaqah menurut ulama hanafiyah :
* Habis waktu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak yang aqad
Jika waktu telah habis tetapi belum menghasilkan apa-apa, penggarap boleh berhenti. Akan tetapi jika penggarap meneruskan bekerja diluar waktu yang telah disepakati, ia tidak mendapatkan upah.
Jika penggarap menolak untuk bekerja, pemilik atau ahli warisnya dapat melakukan tiga hal :
a. Membagi buah dengan memakai persyaratan tertentu
b. Penggarap memberikan bagiannya kepada pemilik
c. Membuayai sampai berbuah kemudian mengambil bagian penggarap sekedar mengganti pembiayaan

* Meninggalnya salah seorang yang aqad

Jika penggarap meninggal, maka ahli warisnya berkewajiban meneruskan musyaqah walaupun pemilik tanah tidak rela. begitu pula jika pemilik meninggal, penggarap meneruskan pemeliharaannya walaupun ahli waris pemilk tidak menghendakinya. Apabila kedua orang yang aqad meninggal, yang paling berhak meneruskan adalah ahli waris penggarap. Jika ahli waris itu menolak, musyaqah diserahkan kepada pemilik tanah.

* Membatalkan, baik dengan ucapan secara jelas atau adanya udzur

Diantara udzur yang dapat membatalkn musyaqah :
a. Penggarap dikenal sebagai pencuri yang dikhawatirkan akan mencuri buah-buahan yang dgarapnya
b. Penggarap sakit sehingga tidak dapat bekerja.

PERBEDAAN ANTARA MUJARA’AH ATAU MUKHABAROH DAN MUSYAQAH

Ulama hanafiyah berpendapat bahwa musyaqah, sama dengan mujara’ah kecuali dalam empat perkara :

1. Jika salah seorang yang menyepakati aqad tidak memenuhi aqad, dalam musyaqah, ia harus dipaksa, tetapi dalam mujara’ah, ia tidak boleh dipaksa.
2. Jika waktu musyaqah habis, aqad diteruskan sampai berbuah tanpa pemberian upah, sedangkan dalam mujara’ah, jika waktu habis, pekerjaan diteruskan dengan pemberian upah.
3. Waktu dalam musyaqah ditetapkan berdasarkan istihsan, sebab dapat diketahui dengan tepat, sedangkan waktu dalam mujara’ah terkadang tidak tertentu.
4. Jika pohon diminta oleh selain pemilik tanah, penggarap diberi upah. Sedangkan dalam mujara’ah jika diminta sebelum menghasilkan sesuatu, penggarap tidak mendapatkan apa-apa.

Baca Juga: